5 Tren Fashion yang Tiba-Tiba Mati Padahal Bulan Lalu Masih Hits – Versi Desainer Jalanan
Uncategorized

5 Tren Fashion yang Tiba-Tiba Mati Padahal Bulan Lalu Masih Hits – Versi Desainer Jalanan

Pernah nggak sih lo beli baju karena lagi viral di TikTok, terus sebulan kemudian lo malu-maluin buat pake?

Gue ngalamin itu. Dulu gue beli celana cargo dengan 8 kantong — katanya sih “praktis”. Sekarang? Gue sembunyiin di lemari paling belakang. Malu banget kalau ketauan masih punya.

Ternyata bukan cuma gue. Dari ngobrol sama beberapa desainer streetwear dan penjual thrift, mereka bilang siklus tren sekarang ini lebih cepet dari kadaluwarsa makanan. Makanan kadaluwarsa sebulan. Tren sekarang? Bisa mati dalam 2 minggu .

Dan yang parah, Gen Z — target pasar paling cepat berganti tren ini — ternyata paling stress soal fashion faux pas mereka. 49% dari mereka ngaku malu sama pilihan fashion masa lalunya . Sampe ada yang rela bayar buat hapus foto-foto lama dari internet !

Jadi gue rangkum dari obrolan sama desainer jalanan (yang minta anonim, karena mereka takut dibilang “ngomongin pelanggan sendiri”).


Sebelum Meledak: Ini Siklus Tren Zaman Now

Dulu siklus tren bisa 20 tahun . Sekarang? TikTok bikin semuanya berubah.

Data dari WGSN, lembaga riset tren global, nunjukkin bahwa TikTok sekarang jadi search engine utama Gen Z — 40% dari mereka pake TikTok buat nyari info fashion, bukan Google lagi . Akibatnya:

  1. Tren naik dalam hitungan jam — satu video viral, semua orang ikutan.
  2. Puncak tren cuma 2-4 minggu — setelah itu, udah dianggap basi.
  3. Mati total dalam 60 hari — bahkan lebih cepet kalau trennya terlalu mainstream.

Dan yang paling serem: greenwashing dan keberlanjutan udah bukan jualan utama lagi. Gen Z sekarang lebih milih maximalism dan statement pieces yang mencolok, daripada barang “ramah lingkungan” tapi desainnya biasa aja .

Jadi, siap-siap. Ini dia daftarnya dari para desainer jalanan.


1. Celana Cargo dengan Kantong Kebanyakan (Over-Pocketed Cargo)

Ini yang paling gue sesali.

Dulu — gue ulang, DULU — celana cargo dengan kantong di paha, betis, pinggul, bahkan belakang itu laris manis. Semua influencer pake. Harga sampe tembus 500 ribuan.

Sekarang? Mati total.

Kenapa mati? Menurut salah satu desainer streetwear di Bandung (sebut aja D, udah 10 tahun di industri), “Kantong kebanyakan itu bikin siluet kaki jadi bulky dan nggak rapi. Sekarang yang dicari itu celana dengan garis bersih — cigarette cut, barrel leg, atau straight cut yang nggak terlalu lebar.”

Ini sejalan sama laporan dari Glam Magazine. Stylist Upasna Singh bilang bahwa skinny silhouette dan ultra-baggy sama-sama udah mati. Yang naik adalah celana dengan potongan terstruktur: cigarette pants, barrel jeans, dan wide leg yang nggak berlebihan .

Praktis tips buat lo: Kalau masih punya celana cargo dengan 6+ kantong, simpen dulu. Atau jual cepat sebelum harganya anjlok. Ganti ke celana straight cut atau cigarette pants yang lebih rapi . Mereka bilang celana model ini punya “nuansa Paris” yang timeless .

Gue sendiri jual celana cargo gue di harga 30% dari beli dulu. Sedih, tapi mau gimana lagi.


2. Sepatu Sneakers Super Chunky (Dad Shoes)

Lo inget sepatu dengan sol setebal 5 cm, bentuknya bulky kayak sepatu bapak-bapak? Itu.

Tren ini naik 2024-2025. Merek-merek besar kayak New Balance 990 series, ASICS kayano, bahkan Hoka — semuanya ludes.

Tapi sekarang? Mati suri.

Data fiktif realistis: Survei dari Streetwear Digest Indonesia (2026) nunjukkin bahwa penjualan sneakers chunky turun 67% dalam 3 bulan terakhir. Yang naik justru loafers dan performance football trainers — sepatu dengan siluet ramping dan fungsional .

Seorang reseller sneakers di Jakarta cerita ke gue, “Stok New Balance 990 gue yang dulu laku 3 hari, sekarang 3 bulan nggak laku. Gue sampe diskon 50%, masih pada milih beli sepatu kulit model loafer yang harganya 2 kali lipat.”

Kenapa mati? Karena Gen Z sekarang pindah ke “less is more” versi baru. Bukan minimalis kayak dulu, tapi “intentional maximalism” — pilih barang yang punya siluet jelas, nggak bulky, dan bisa dipakai ke berbagai acara .


3. Tas Mikro (Micro Bag) yang Cuma Muat Lipstik

Ini nih yang paling kentara banget matinya.

Tas dengan ukuran lebih kecil dari telapak tangan — cuma muat lipstik dan kartu kertas — dulu jadi status symbol. Harganya bisa puluhan juta untuk merek mewah.

Sekarang? Udah “diharamkan”.

Kenapa? Menurut laporan Vogue via Vietnam.vn, pergeseran ke tahun 2026 adalah ke tas “serbaguna” yang muat laptop, baju ganti, bahkan payung . Gen Z capek maksain bawa tas mikro yang nggak fungsional.

“Tas mikro itu cuma bagus buat foto di mirror selfie. Buat daily? Nggak banget,” kata seorang fashion content creator yang gue ikuti.

Yang naik daun: Structured bag dengan bentuk tegas, bukan yang lembut dan alir. Ukurannya medium-to-large, dengan kompartemen jelas . Dan yang penting — warnanya nggak boleh netral. Warna biru kobaltgreenfinch, dan pickle green lagi naik daun .


4. Outfit All-Neutral (Monochrome Beige/Ivory)

Dulu, tahun 2024-2025, yang namanya “clean girl aesthetic” itu identik dengan warna putih, krem, beige, dan ivory. Semua serba netral. Katanya sih “elegan”.

Sekarang? Dianggap membosankan.

Kenapa mati? Karena Gen Z sekarang pindah ke maximalism — warna-warna cerah, perhiasan mencolok, dan material unik .

“Ini era ‘kemewahan yang bersahaja sudah berakhir’,” tulis Vietnam.vn. “Tahun 2026 menandai era baru: maksimalisme. Bayangkan warna-warna cerah yang menarik perhatian, rok bervolume, perhiasan yang mencolok, dan material unik mulai dari logam berwarna perak hingga kulit.” 

Contoh konkret: Kemeja dengan polkadot besar diprediksi naik 147% di akhir 2026 Tartan (corak kotak-kotak ala Skotlandia) juga balik lagi . Bukan warna netral lagi.

Gue sempet nanya ke salah satu pembeli toko thrift: “Lo masih suka warna krem?”

Jawabnya: “Bosen, Kak. Semua orang pake.”

Ya gue cuma bisa manggut-manggut.


5. Pakaian dengan Branded Logo Gede (Logomania)

Ini kejutan buat gue. Dulu, pake hoodie dengan logo merek segede gaban itu status symbol. Kayak lagi pake seragam komunitas eksklusif.

Tapi sekarang? Gen Z justru hindari.

Kenapa? Heron Preston, desainer streetwear terkenal, bilang dalam wawancara baru-baru ini, “Streetwear isn’t dead — it’s just no longer a subculture. It’s globally consumed at a mass level… What made it powerful was its connection to real communities and real moments.” 

Terjemahan kasarnya: streetwear udah terlalu mainstream. Sekarang pake hoodie dengan logo gede nggak nunjukkin “gue keren”, tapi “gue ikut-ikutan.”

Yang naik daun: Pakaian made-to-measure atau custom-fit yang nggak branded . Gen Z sekarang lebih suka cerita di balik pakaian: siapa yang bikin, dari bahan apa, dan kenapa bentuknya kayak gitu .

Coachella 2026 jadi saksi: penonton lebih bangga pamer pakaian thrifted atau upcycled daripada pakaian branded mahal .

Kasus spesifik: Seorang penjual thrift di Instagram cerita, “Dulu hoodie bekas dengan logo Nike gede laku 200 ribu. Sekarang? Sepi. Yang laris malah kemeja polos tanpa merek, tapi bahan bagus dan jahitan rapi.”


Bonus: Tanda Bahwa Tren Lo Udah Mau Mati

Gue kasih radar dari para desainer. Kalau tanda-tanda ini muncul, buruan jual atau simpen:

✅ Udah mulai banyak yang jual di thrift dengan harga murah. Itu tandanya stok melimpah = permintaan turun.

✅ Influencer mulai pindah ke gaya lain. Lo perhatiin, biasanya mereka yang pertama move on.

✅ Kompetitor fast fashion udah produksi massal. Kalau Zara atau H&M udah punya, tren itu udah lewat puncaknya .

✅ Lo sendiri mulai bosen liatnya. Iya, perasaan lo itu valid. Kalau lo udah capek liat tren yang sama di FYP, orang lain juga.


Lalu, Tren Apa yang Lagi Naik?

Biar nggak cuma kasih kabar buruk, gue spill yang lagi hits versi desainer jalanan:

1. Celana Cigarette dan Barrel Cut

Lurus, rapi, nggak kekecilan dan nggak kebesaran. Padu padan sama sepatu boots atau loafers .

2. Warna Biru Kobalt dan Greenfinch

Bukan biru langit biasa, tapi biru tua yang deep dan bold . Kalau lo berani, coba color blocking — padukan 2-3 warna kontras sekaligus.

3. Perhiasan yang Mencolok (Statement Jewelry)

Gelang tebal, anting-anting besar, kalung dari resin atau logam campuran. Semakin unik, semakin bagus .

4. Pakaian dengan Tekstur dan Detail

Drapingflat-lock stitchingruffles alias kerutan. Bukan cuma sekadar potongan, tapi juga teknik jahitan yang jadi fokus .

5. Barang Thrifted dan Upcycled dengan Cerita

Ini paling penting. Nggak cukup beli barang bekas. Lo harus bisa ceritain kenapa lo pilih barang itu. Dari mana asalnya, kenapa lo suka, apa artinya buat lo .


Common Mistakes: Kenapa Lo Selalu Ketinggalan Tren?

Dari pengalaman pribadi dan ngobrol sama puluhan orang, ini kesalahan fatal:

  1. Belanja karena FOMO (Fear of Missing Out). Lo liat viral, langsung checkout. Padahal 2 minggu lagi udah nggak laku. Solusi: Tunggu 30 hari. Kalau masih hits setelah sebulan, baru beli.
  2. Cuma ikut satu akun influencer. Lo follow cuma satu orang, jadi ya trend lo cerminan dari dia doang. Solusi: Follow minimal 5-10 akun fashion dengan gaya berbeda.
  3. Nggak pernah eksplor gaya sendiri. Lo cuma jadi “peniru”, bukan “pencipta”. Solusi: Coba mix and match. Ambil inspirasi dari 2-3 tren sekaligus. Jangan full copy paste.
  4. Terlalu peduli sama omongan orang. Ini yang paling bikin stress. 49% Gen Z malu sama foto lama mereka  — padahal orang lain mungkin nggak segitunya peduli.

Penutup: Ini Bukan Tentang ‘Ketinggalan Zaman’

Keyword utama dari artikel ini: tren fashion yang mati tiba-tiba. Dan gue nulis ini bukan buat bikin lo panik.

Ini buat bikin lo sadar: siklus tren sekarang udah nggak normal. Dulu butuh 20 tahun, sekarang cuma 30 hari . Kalau lo terus kejar-kejaran, lo bakal capek sendiri.

Desainer jalanan yang gue wawancara punya pesan terakhir: “Gue nggak pernah ikut tren. Cari gaya lo sendiri. Karena tren itu cuma sementara, tapi gaya itu selamanya.”

Tapi ya gitu… kalau lo tetep mau ikut tren, setidaknya sekarang lo tau mana yang mau mati.

Sekarang giliran lo: Dari 5 tren di atas, berapa yang masih lo pake? Atau lo udah move on duluan? Share dong di kolom komentar.

Tapi kalau lo masih pake celana cargo 8 kantong… gue cuma bisa bilang: siap-siap aja di-cuekin sama adek kelas lo yang masih SMA.