Kamu masih punya sweater beige di lemari? Yang warnanya netral, potongannya sederhana, dan katanya “timeless” itu?
Jangan buru-buru dibuang. Tapi jangan juga berharap itu jadi pusat penampilanmu di 2026.
Karena ada yang berubah. Setelah bertahun-tahun kita diajari bahwa “mahal” itu berarti “diam”—tanpa logo, tanpa warna mencolok, tanpa suara—generasi baru mulai bosan. Mereka nggak mau lagi terlihat seperti hasil copy-paste dari katalog old money.
Mereka mau terlihat seperti diri mereka sendiri.
Quiet Luxury Sudah “Selesai”
Ini yang perlu kamu pahami dulu.
Quiet luxury bukan hilang. Dia cuma kehilangan monopoli. Selama beberapa tahun, satu-satunya cara terlihat “punya selera” adalah dengan muted warna, potongan clean, dan sikap seolah nggak berusaha. Itu jadi template. Dan template, sebagus apapun, akhirnya terasa… membosankan.
Seperti yang ditulis Who What Wear: setelah bertahun-tahun quiet luxury dan clean lines, musim ini membawa “appetite for something a little more extravagant and, crucially, a lot more fun”.
L’Officiel bahkan lebih blak-blakan: “Fashion has spent the last few years whispering. Quiet luxury asked us to invest in beige cashmere… Then, somewhere across 2026’s fashion weeks, the whispering stopped”.
Yang menggantikan bukan satu tren tunggal. Tapi ledakan. Warna. Tekstur. Detail. Semuanya sekaligus.
Warna yang Berani: Dari Beige ke Chartreuse
Coba lihat runway Fall/Winter 2026.
Prada menabrakkan tangerine dengan cool blue. Marni bikin kemeja kuning matahari bertemu rok slate. Versace dan MM6 membangun look dari blok warna primer yang bold. Jacquemus commit ke crimson penuh. White Mountaineering menyetrum runway dengan satu warna dari collar sampai hem.
Ini bukan “pop of color” yang malu-malu. Ini color-blocking yang sengaja. Dua atau tiga warna yang ditempatkan bersebelahan dengan proporsi yang tepat. Done well, dua bidang warna datar bisa membawa seluruh look.
Kenapa ini terjadi sekarang?
L’Officiel menyebutnya “dopamine dressing”—dorongan manusia yang kontra-intuitif: ketika dunia terasa nggak stabil, bukan retreat ke abu-abu, tapi meraih kegembiraan. Vitalitas. Sesuatu yang bilang “I’m still here”.
Versi Gen Z-nya lebih personal. Carolyn Mair, penulis The Psychology of Fashion, bilang: “the return of bold, sometimes unexpected colour combinations reflects a growing appetite for visibility, individuality and emotional stimulation”.
Art Deco dan “Terlalu Banyak Itu Bagus”
Tren spesifik yang paling menonjol? Art Deco.
Geometric patterns. Beading. Fringe. Tekstur taktil. Semua elemen yang dulu dianggap “berlebihan” sekarang justru jadi pusat perhatian.
Fashion insider di Substack bilang: “I love the look of a beaded or fringe bag with something simple and modern like a white tee and jeans. Or a beaded brooch to add interest to a coat”.
Kuncinya: jangan terlalu precious. Beaded bag dengan jeans dan kaos putih? Tiba-tiba semua glamour itu terasa of-the-moment, bukan costume-y.
Ini yang sering salah dipahami. Orang mikir “kalau mau glamour, harus full glamour”. Padahal justru kontras-nya yang bikin menarik. Satu item statement, sisanya simpel. Atau sebaliknya: outfit dasar, aksen yang bicara.
“Undone” Styling: Ketika Perfect Justru Terlihat Salah
Satu lagi yang menandai pergeseran ini: intentional imperfection.
Kemeja setengah dimasukkan. Layer yang nggak sejajar. Garment yang terlihat twisted atau slightly off-kilter. Ini bukan careless. Ini calculated.
FashioNZ menyebutnya “humanised dressing, where individuality overrides traditional notions of refinement”.
Gen Z menyebutnya… ya, hidup.
Karena siapa sih yang selalu rapi? Siapa yang nggak pernah salah kancing, salah layer, salah proporsi? Justru ketidaksempurnaan yang disengaja itu yang bikin outfit terasa personal, bukan hasil algoritma.
Hyper-Layering: Lebih dari Sekadar Praktis
Layering bukan lagi soal “dingin, jadi pakai jaket”.
Di runway Fall/Winter 2026, layer jadi bahasa styling itu sendiri. Dress di atas trousers. Knit di atas shirting di atas sheer layer. Sacai, Dries Van Noten, Prada—semuanya stack multiple garments dengan cara yang feels personal and intuitive.
Ini juga cara paling demokratis untuk tampil beda. Kamu nggak perlu beli baju baru. Kamu perlu cara baru untuk memakai yang sudah ada.
Seperti yang dikatakan salah satu fashion insider: “I’m always most drawn to trends that allow me to work with pieces I already have in my closet”.
Alt Fashion: Ketika “Nyimpang” Jadi Identitas
Sementara runway sibuk dengan warna dan tekstur, ada pergerakan lain yang lebih underground tapi nggak kalah penting.
Alt fashion—gaya yang secara sengaja menyimpang dari mainstream. Gothic, punk, dan segala variannya. Di Banjarmasin, desainer muda Naufal Lisna Reisya bilang: “Ini tentang mengekspresikan identitas pribadi melalui penampilan. Justru di era media sosial, alt fashion mendapat ruang lebih luas untuk berkembang”.
Ini poin penting. Alt fashion bukan cuma “gaya”. Ini pernyataan. Dan media sosial—yang dulu dianggap homogenisasi—justru jadi platform untuk niche.
Vintage dan Thrift: Ketika “Lama” Jadi Baru
Tren lain yang nggak bisa diabaikan: vintage.
Gen Z berburu jaket denim oversized, celana high-waist, kemeja bermotif retro, aksesori klasik. Bukan karena murah (walaupun itu bonus). Tapi karena unik.
“Banyak anak muda merasa menemukan ‘harta karun’ berupa outfit unik yang sulit ditemukan di toko fashion biasa”.
Dan ini nyambung dengan nilai yang lebih besar: keberlanjutan. Pakaian vintage dianggap lebih sustainable karena mendorong penggunaan kembali.
Jadi kamu bisa tampil beda dan merasa baik tentang itu. Win-win.
Y2K Masih Hidup (dan Nggak Akan Pergi)
NewJeans merilis teaser bertajuk ‘2026 Summer of NewJeans’ bulan Juli lalu. Dan gaya Y2K—low-rise jeans, rok mini, denim, warna cerah, aksesori era 2000-an—masih jadi bagian dari identitas mereka.
Tapi Y2K 2026 bukan Y2K 2000. Ini nostalgia yang difilter. Unsur era itu diambil, dipadukan dengan gaya kekinian, dan hasilnya terasa fresh, bukan retro.
“Bagi remaja, Y2K tidak hanya menjadi pilihan berpakaian, tetapi juga cara mengekspresikan diri. Unsur nostalgia yang dipadukan dengan gaya kekinian menciptakan identitas yang unik dan segar”.
Silent Luxury vs. “Noisy” Identity: Apa Bedanya?
Ini mungkin pertanyaan paling penting.
Quiet luxury mengajarkan: “kalau kamu tahu, kamu tahu”. Kualitas tanpa perlu pengumuman. Status yang nggak perlu dibuktikan.
Yang menggantikannya bukan “loud luxury” dalam arti logo besar dan brand flaunting. Itu sudah lewat juga.
Yang baru ini lebih dalam: identitas yang diumumkan lewat pilihan estetik. Bukan “aku mampu beli ini”. Tapi “ini yang aku pilih, dan itu bilang sesuatu tentang siapa aku”.
Bold color bilang: aku nggak takut dilihat.
Art Deco bilang: aku suka keindahan yang rumit.
Undone styling bilang: aku nggak perlu sempurna untuk terlihat niat.
Vintage bilang: aku peduli dari mana sesuatu datang.
Alt fashion bilang: aku nggak ikut aturan yang nggak aku setujui.
Semuanya personal. Semuanya statement. Tapi statement-nya bukan tentang harga. Tentang nilai.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Kesalahan #1: Menganggap “bold” berarti “norak”.
Bold color bukan berarti pakai semua warna sekaligus. Color-blocking yang baik adalah latihan proporsi dan kontras. Get the ratio wrong, impact curdles into chaos. Get it right, dua warna datar bisa membawa seluruh look.
Kesalahan #2: Beli baru untuk setiap tren.
Tren 2026 justru mendorong memakai apa yang sudah kamu punya dengan cara baru. Jewelry sebagai styling tool. Duster yang mengubah denim dan tee jadi intentional outfit. Shrunken blazer dengan celana yang sudah kamu punya bertahun-tahun.
Kesalahan #3: Terlalu precious dengan item statement.
Beaded bag dengan jeans? Itu justru yang bikin glamour terasa modern. Jangan simpan item “bagus” untuk acara “khusus”. Pakai sekarang.
Kesalahan #4: Mengejar tren tanpa mempertimbangkan diri sendiri.
Alt fashion, vintage, Y2K, color-blocking—semuanya valid. Tapi yang paling penting: apakah ini kamu? Atau kamu cuma ikut karena takut ketinggalan?
Tips Praktis untuk Kamu
Pertama, mulai dari satu item statement. Bukan overhaul total. Satu beaded brooch di coat lama. Satu scarf crimson yang menabrak outfit netral. Satu chunk of color di antara semua beige.
Kedua, eksperimen dengan layering. Ambil tiga item yang nggak pernah kamu pakai bareng. Coba. Mungkin aneh. Mungkin justru menarik. Yang penting coba.
Ketiga, jangan takut thrift. Vintage dan second-hand adalah cara paling demokratis untuk dapat item unik. Dan kamu sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Keempat, pikirkan “cost per wear”, bukan “harga beli”. Baju 150 ribu yang dipakai 15 kali lebih “mahal” dari baju 600 ribu yang dipakai 2 kali. Tren 2026 tentang memakai, bukan menimbun.
Kelima, kenali dirimu. Tren terbaik adalah yang membuat kamu merasa seperti versi terbaik dirimu. Bukan versi orang lain.
Jadi, Apa yang Menguasai Gaya Generasi Baru di 2026?
Bukan satu hal.
Tapi kalau harus diringkas: dari terlihat mahal menjadi terlihat personal.
Quiet luxury bilang: “diam, biar kualitas yang bicara.”
2026 bilang: “nggak. aku mau bicara. Dan yang aku bilang adalah tentang siapa aku.”
Warna yang berani. Tekstur yang taktil. Detail yang sengaja. Layer yang intuitif. Vintage yang unik. Alt yang sengaja menyimpang.
Semuanya bukan tentang status. Tentang identitas.
Jadi pertanyaannya bukan “tren apa yang sedang populer”. Pertanyaannya: kalau pakaianmu bisa bicara, apa yang akan dia katakan tentang kamu?


