Tren Bold Color, Siluet Tak Terduga, dan Gaya Retro yang Siap Mendominasi Musim Gugur
Uncategorized

Dari Minimalis ke Maksimalis: Warna Berani, Siluet Tak Terduga, dan Gaya Retro yang Siap Mendominasi Musim Gugur

Pernah ngerasa gaya “clean girl” atau “quiet luxury” itu udah mulai membosankan? Saya juga. Rasanya semua orang pake warna netral, potongan simpel, dan keliatan “aman” banget. Nah, musim gugur 2026 ini kayaknya jawaban atas kebosanan itu. Desainer dan pecinta fashion lagi ramai-ramai tinggalkan minimalisme dan balik ke gaya yang lebih ekspresif, playful, dan berani.

Ini bukan cuma soal ganti tren, tapi ini semacam reaksi terhadap era minimalisme yang udah terlalu lama mendominasi. Orang mulai capek sama keseragaman dan pengen sesuatu yang lebih personal, lebih berkarakter, dan lebih… hidup. Yuk, kita bedah tiga elemen utama yang siap mendominasi: bold color, siluet tak terduga, dan gaya retro.

🎹 Warna Berani: Saat Palet Netral Mulai Ditinggalkan

Setelah musim-musim didominasi warna netral, fall/winter 2026 justru teriak-teriak soal warna. Royal purple dan chartreuse muncul di mana-mana di runway, dari Celine sampe Loewe . Purple bahkan udah jadi “definitive color of the season,” dengan tampilan yang kuat—mulai dari trench coat panjang sampe aksesoris kayak sarung tangan dan tas .

Red juga punya momen besar. Di runway, merah tampil dalam berbagai bentuk—monokromatik, dipaduin dengan tekstur beda kayak knit dan satin, sampe jadi gaun struktural . Kalo lo masih ragu pake warna berani, mulai aja dari aksesoris. Purple shoes atau purple handbag bisa jadi entry point yang aman .

Nah, ini menarik. Pergeseran ke warna berani ini bukan cuma soal estetika. Ini adalah penolakan terhadap “quiet luxury” yang terlalu kalem. Desainer mulai bereksperimen dengan tonal clashes dan bold color blocking . Bahkan full-black looks pun muncul sebagai “strong power statement,” tapi dengan cara yang lebih berani dan tegas .

đŸ§„ Siluet Tak Terduga: Dari Peplum sampai Boots-as-Pants

Kalo warna berani ngasih semangat, siluet tak terduga ngasih kejutan. Fall/winter 2026 penuh dengan bentuk-bentuk yang nggak biasa.

Peplum balik lagi, tapi dengan makeover modern. Nggak cuma terbatas di blazer feminin 80-an, peplum sekarang muncul di jaket kulit, evening wear, dan menciptakan definisi pinggang yang sculptural tanpa perlu ikat pinggang .

Layering juga jadi seni tersendiri. Prada ngasih pelajaran paling seamless dengan konsep “Russian doll”—model naik ke runway, lepas satu layer demi satu layer . Missoni dan Marni juga main layering dengan pile-up coats, bombers, cardigans, sampe scarves dan shawls . Ini bukan cuma soal hangat, tapi soal menciptakan volume dan dimensi yang nggak terduga.

Boots-as-pants? Ini tren yang bikin orang nengok. Over-the-knee boots yang panjangnya sampe kayak celana, dengan siluet yang ramping dan sempit—ini adalah pasangan sempurna buat streamlined silhouettes yang jadi favorit musim ini . Bersamaan dengan itu, “oversize is over” kata New York Times, dan ultra-tall, ultra-narrow boots jadi jawabannya .

⏳ Gaya Retro: 70-an dan 90-an Berebut Perhatian

Nah, ini bagian yang paling seru. Dua dekade—70-an dan 90-an—sama-sama balik dengan cara yang beda.

70-an: Boho, Flares, dan Velvet

Kebangkitan 70-an makin terasa. Velvet muncul di mana-mana—dari Ralph Lauren sampe Khaite, dengan tekstur yang smooth dan elegan . Ini bukan velvet kuno, tapi versi modern yang siap dipakai sehari-hari.

Flared jeans dan brown pants juga balik dengan gaya . Dipadu dengan boho blouses, patchwork details, atau platform sandals, ini ngasih vibe yang carefree tapi tetep stylish . Celana cokelat dari berbagai model—flare, harem, crochet, suede, palazzo—semuanya muncul dengan sentuhan retro yang dipadu dengan elemen modern kayak ankle boots atau heeled loafers .

90-an: Minimalis yang Maksimalis

Di sisi lain, 90-an juga balik, tapi dengan twist. Tren ini disebut “Carolyn Bessette-Kennedy effect”—minimalisme khas 90-an yang dipopulerkan oleh Calvin Klein, Helmut Lang, dan Prada . Tapi ini bukan minimalis yang membosankan. Ini minimalis yang “punya gigitan”—classics with bite, kayak yang disebut Michael Rider dari Celine .

Slip dresses balik lagi, muncul di Loewe dalam versi latex, di Khaite dengan sarung tangan ular dan boots ponyhair, dan di Zadig et Voltaire di bawah jaket kulit . Boudoir dressing dan lingerie-inspired looks juga muncul di red carpet, dari Zoe Saldaña sampe Jenna Ortega .

Yang menarik, Gucci di bawah Demna juga ngambil referensi kuat dari era Tom Ford 90-an—mini dresses, stiletto tinggi, suiting ramping, sampe gaun dengan built-in G-string yang dipake Kate Moss . Ini bukan copy-paste, tapi reinterpretasi dengan kacamata Demna yang subversif.

🧠 Common Mistakes: Hal-Hal yang Perlu Diperhatiin

Biar lo nggak salah langkah dalam mengadopsi tren ini, ada beberapa jebakan yang perlu dihindari:

  1. Terlalu Banyak Sekaligus: Warna berani, siluet tak terduga, dan gaya retro semuanya keren. Tapi kalo dipadu sekaligus tanpa perhitungan, lo bisa keliatan kayak lemari baju berjalan. Pilih satu fokus—misalnya warna purple dengan siluet peplum, atau jeans flares dengan blouse boho.
  2. Mengabaikan Proporsi Tubuh: Siluet tak terduga kayak peplum atau boots-as-pants bisa mengubah proporsi tubuh. Pastikan lo tau bentuk tubuh lo dan pilih siluet yang nge-flatter, bukan yang cuma ikutan tren.
  3. Terlalu Literal dalam Retro: Gaya 70-an dan 90-an itu inspirasi, bukan kostum. Jangan sampe lo keliatan kayak lagi pergi ke pesta kostum. Padukan elemen retro dengan potongan modern biar keliatan kekinian.
  4. Lupa Fungsi: Layering keren, tapi kalo lo tinggal di daerah panas, mungkin nggak cocok. Begitu juga boots-as-pants—keren, tapi kalo lo harus jalan banyak, bisa jadi nggak nyaman.

✅ Tips Praktis: Mulai dari yang Kecil

Buat lo yang pengen ikutan tren ini tanpa bingung, ini saran dari gue:

  • Mulai dengan Aksesoris atau Satu Statement Piece: Kalo lo ragu pake warna berani, mulai dari purple shoes atau purple handbag . Atau coba peplum blazer yang bisa dipadu dengan celana simpel.
  • Cari Inspirasi dari Runway, Tapi Adaptasi: Liat gimana desainer memadukan elemen-elemen ini, tapi sesuaikan dengan gaya hidup lo sehari-hari.
  • Mix and Match Era: Padukan elemen 70-an (flares, velvet) dengan elemen 90-an (slip dress, minimalis) buat menciptakan look yang unik dan personal.
  • Perhatikan Tekstur: Tekstur kayak velvet, suede, atau ponyhair bisa ngasih dimensi visual tanpa harus pake warna berani .

🏁 Kesimpulan: Saatnya Berani Berekspresi

Jadi, fall/winter 2026 ini bukan cuma soal ganti tren, tapi soal perubahan mindset. Setelah bertahun-tahun minimalisme mendominasi—dari “clean girl” sampe “quiet luxury”—sekarang zamannya fashion yang lebih ekspresif, playful, dan berani.

Warna beranisiluet tak terduga, dan gaya retro adalah tiga pilar utama yang bakal mendominasi. Dan semua ini adalah reaksi terhadap era minimalisme yang udah terlalu lama membosankan. Seperti yang diungkapkan Istituto Marangoni, ini adalah “disruptive rejection of minimalism and glossy perfection” . Fashion jadi lebih “unserious,” lebih playful, dan lebih manusiawi.

Ini saatnya buat bereksperimen, buat keluar dari zona nyaman, dan buat ngasih karakter pada gaya lo. Karena di era di mana semuanya bisa seragam, yang paling berani adalah mereka yang berani tampil beda.